Petani Padi Organik Asal Tasikmalaya Ini Pernah "Diculik" Malaysia

Bila bicara mengenai negeri jiran Malaysia, sering fikiran kita – bangsa Indonesia, sudah pasti, senantiasa saja menyimpan rasa berprasangka buruk yang keluar dengan mendadak. Bagaimana tidak, karna sikap jumawa negara tetangga yang satu ini sering berbuat tidak etis harga diri bangsa Indonesia. Hingga dalam hubungan antar dua bangsa serumpun, ini juga sering menyebabkan kemelut yang susah dihindarkan.

Tingkah Negeri Jiran yang paling anyar, yakni rekaman video yang mengedar luas di sosial media yang mengunggah pidato bekas Perdana Menteri Mahathir Mohamad pada satu acara tanggal 14 Oktober kemarin. Didalam pidatonya Mahathir mengatakan PM Najib Razak jadi keturunan ” bajak laut Bugis “. Bukan sekedar orang Bugis saja, bangsa Indonesia juga tersinggung dengan pernyataan yang berasumsi rendah satu diantara suku bangsa asal Sulawesi itu. Tidak kecuali, Wakil Presiden Juiceuf Kalla juga mengemukakan memprotes keras.

Terlebih dulu, pada pertengahan bln. Agustus 2017 lantas, keluar juga insiden tidak kalah menghentaknya perasaan bangsa kita. Dalam buku tips aktivitas pesta sukan antarbangsa se-Asia Tenggara (SEA Games) diketemukan gambar bendera Indonesia terbalik jadi putih merah, jadi beralih jadi seperti bendera kebangsaan Polandia. Waktu itu juga pemerintah kita, lewat Menteri Pemuda serta Olah Raga segera mengemukakan memprotes. Serta seperti umum, pihak Malaysia mohon maaf atas insiden itu.

Tidak cuma satu-dua barangkali sikap negeri jiran itu yang memancing kegeraman bangsa kita. Kelihatannya tidak terhitung sekali lagi rentetan momen sudah jadi penyebab timbulnya kemelut dalam hubungan antarbangsa serumpun itu. Mulai sengketa perbatasan, penganiayaan TKI, sampai klaim atas beberapa budaya Indonesia juga sempat juga dikerjakannya.

Bahkan juga pada th. 2009 lantas, seseorang petani asal Tasikmalaya juga pernah ” diculik ” oleh negara tetangga kita itu. Hal tersebut berlangsung karna Aep Saepudin (51) warga Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, adalah seseorang petani sebagai pelopor tehnik system penanaman padi organik.

Baca Juga : Pelemparan Bom di Polsekta Bontoala, Warga Diminta Beraktivitas Normal

Didapati di tempat tinggalnya, Aep menerangkan, kalau system tanam padi organik itu yaitu satu langkah bercocok tanam padi tanpa ada memakai bahan kimia seperti umumnya dalam budidaya padi konvensional yang sampai kini dikerjakan petani umumnya. Baik pupuk ataupun obat-obatan untuk membasmi hama serta penyakit yang umum menyerang tanaman padi, semua memakai beberapa bahan alami.

Karna pengalamannya yang telah malang-melintang dalam menekuni tani padi organik, nama Aep jadi populer di Tasikmalaya serta sekelilingnya, terlebih di kelompok beberapa petani. Bahkan juga setelah itu dimuka namanya ditambah dengan Deet (Bhs. Sunda yang berarti dangkal), hingga jadilah Aep Saepudin lebih di kenal dengan sebutan Aep Deet sampai saat ini.

Ditambah lagi waktu Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya mengajaknya untuk membagikan pengetahuan yang diperolehnya dari pengalaman itu pada semua petani di sekitaran Tasikmalaya, nama Aep Deet makin meroket saja. Karena kepiawaiannya itu juga, Kabupaten Tasikmalaya sudah dapat mengekspor beras organik ke beragam negara, diantaranya Amerika Serikat, Belgia, Jerman, Belanda serta Jepang. Bahkan juga pada bln. Maret 2017 lantas, sejumlah 13 ton beras organik di-export ke Italia.

Cuma saja jerih-payah Aep Deet dalam menolong pengembangan padi organik di Kabupaten Tasikmalaya tidak berbanding lurus dengan capaian kesuksesan yang dibanggakan Pemkab Tasikmalaya itu. Kehidupan ekonomiAep Deet sekeluarga tetap masih saja ” Senin-Kamis “, seperti umumnya nasib petani di negeri ini. Tenaganya tidak henti dieksploitasi, sedang akhirnya bisa disebut nihil.

Memanglah Aep sendiri tidak menolak, beragam sertifikat penghargaan dari Bupati serta lembaga berkaitan telah bertumpuk-tumpuk yang diterimanya. Bahkan juga pada 6 Mei 2017 lantas Presiden Jokowi juga menganugerahkan Sinyal Kehormatan Satyalencana Pembangunan Bagian Ketahanan Pangan serta Pertanian pada Aep Deet Saepudin waktu di gelar Minggu Tani Nasional ke XV di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam.
” Tapi apalah berarti penghargaan berupa kertas seperti itu. Paling cuma untuk dipajang pada dinding tempat tinggal saja. serta sekalipun tidak mempunyai nilai jual barang satu rupiah juga, ” keluhnya.

Mungkin saja karenanya juga, Aep Deet satu saat pada 2009 lantas dengan suka ria bersedia ” diculik ” oleh beberapa orang dari negeri jiran, Malaysia.

Saat itu, dianya kehadiran beberapa orang dari Serikat Sunnah Tani dari Kelantan, Malaysia. Tamu-tamunya itu nyatanya memohon Aep untuk menuntun langkah bercocok tanam padi organik disana, disertai dengan iming-iming balas jasa yang membikin mata terbelalak untuk yang mendengarnya.

Jadi Aep juga tanpa ada fikir panjang sekali lagi, dengan kemauan sharing pengetahuan, dengan disertai keinginan untuk mengubah kehidupan ekonomi keluarga yang sepanjang itu merasa tetap masih saja pas-pasan, ahirnya pergi juga ke Malaysia dengan memboyong keluarganya. Memanglah benar apa yang dijanjikan beberapa pengurus Serikat Sunnah Tani dari Kelantan itu, dalam tiap-tiap bulannya Aep terima upah yang bila dirupiahkan sejumlah Rp 12 juta. Hingga sepanjang di Malaysia Aep telah dapat menunaikan rukun Islam yang ke-5. Pergi haji ke Saudi Arabia.

Diluar itu Aep juga sering memperoleh undangan beragam seminar. Bukan sekedar di Malaysia saja. waktu itu Aep diundang juga ke negara Thailand, Vietnam, Myanmar, Bangladesh untuk jadi pembicara berkaitan bagian pertanian padi organik yang sampai kini digelutinya.

Cuma saja waktu telah berapa lama tinggal di Malaysia, telinga Aep mendengar ada tudingan seseorang tokoh Indonesia yang mengatakan dianya jadi pengkhianat bangsa. Walau sebenarnya semestinya tokoh itu janganlah demikian gampangnya menuduh sekeji itu bila tidak paham duduk persoalan yang sebenarnya. Buktinya sesudah tiga th. lamanya Aep mondar-mandir Indonesia — Malaysia, tokh pada akhirnya Aep kembali pada Tanah Air terkasih. Sesaat kehidupan ekonomi keluarganya juga ikut pula kembali pada awal mulanya.

” Terkecuali mengerjakan sawah, ya, bekerja jadi kuli bangunan juga dijalani juga, ” tuturnya seraya tertawa hambar.

Walau sebenarnya waktu terima Sinyal Kehormatan Satyalancana Pembangunan Bagian Ketahanan Pangan serta Pertanian dari orang nomor satu di Indonesia, Aep sempat berbisik pada Jokowi, ” Kami demikian merindukan seseorang pemimpin yang mempunyai kepedulian pada petani. ” ***

Support by : kompas.com