RIYADH – Koalisi pimpinan Arab Saudi dilaporkan menggelar serangan udara ke bandara yang berada di ibu kota Yaman, Sanaa.

Dalam pernyataan yang dikutip Al-Ekhbariya, serangan udara itu menyasar drone yang sedang bersiap untuk terbang dan dituding bakal memberikan ancaman.

“Bandara itu dipakai Houthi sebagai pangkalan militer yang jelas-jelas melanggar hukum kemanusiaan internasional,” ulas koalisi.

AFP melaporkan Rabu (19/12/2018), serangan itu merupakan aksi pertama yang diakui koalisi sejak pembicaraan damai di Swedia yang menghasilkan gencatan senjata di Hodeida.

Kesepakatan juga diperoleh untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan di kota Taiz yang dikontrol loyalis Yaman namun dikepung oleh Houthi.

Utusan PBB Martin Griffiths mengatakan, saat ini mereka belum menemukan titik terang terkait Bandara Sanaa yang ditutup untuk penerbangan komersial sejak 2015 itu.

“Bandara tersebut bakal didiskusikan lagi dalam pertemuan selanjutnya yang diagendakan bakal digelar Januari mendatang,” terang Griffiths.

Dalam pertemuan selanjutnya, kubu Houthi dan pemerintah Yaman bakal menentukan kerangka negosiasi dan membahas perdamaian secara utuh.

Perang antara pemberontak Houthi dan pemerintah terjadi ketika Presiden Abd-Rabbo Mansour Hadi melarikan diri ke Saudi dan membuat koalisi melakukan intervensi pada 2015.

Baca Juga : Demokrat Beri Waktu 14 Hari kepada Polisi Ungkap Dalang Perusakan Atribut

Sejak saat itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan 10.000 orang tewas akibat konflik, meski organisasi penegakan HAM menyatakan jumlahnya bisa melebihi data WHO.

Selain itu, sekitar 14 juta warga Yaman berada dalam bahaya kelaparan di mana PBB menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terburuk.