Keluarga Anak Balita yang Jadi Bahan Debat Emil serta Puti Terkena " Bully "

                TRENGGALEK, Desa Kayen, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, jadi bahan perbincangan sengit antar-calon wagub Jawa Timur Emil Elestianto Dardak dengan Puti Guntur Soekarno dalam debat calon sekian waktu lalu.

Perbincangan itu bergelut pada sebutan kalau Desa Kayen adalah desa stunting (desa miskin serta kurang gizi) yang diputuskan oleh pemerintah pusat.

Desa Kayen, Kecamatan Karangan, ada tidak jauh dari pusat keramaian. Dari pencarian Google maps, jarak dari pusat kota Trenggalek menuju Desa kayen sejauh 11 km., dengan jarak tempuh sekitaran 20 menit.

Dari info seseorang bidan Desa Kayen, terlebih dulu di wilayahnya ada satu anak balita yang alami gizi jelek bernama Wafiq Apriliani. Tetapi sejak memperoleh perlakuan dari pemerintah mulai sejak awal bln. Januari 2018 lantas, saat ini keadaan Wafiq Apriliani berangsur lebih baik. Berat tubuhnya bertambah. Peluang, tidak lama sekali lagi status gizi jelek Wafiq Apriliani dicabut.

“Ada satu balita yaitu Wafiq Apriliani yang alami gizi jelek, serta telah kami tangani mulai sejak awal Januari kemarin. Saat ini keadaan makin lebih baik, berat tubuh bertambah, ” jelas bidan Desa Kayen, Yesin Febi Wulandari, Sabtu (14/04/2018).

Sedang satu anak balita yang pernah dikunjungi oleh calon wagub Jawa Timur Puti Guntur Soekarno sekian waktu lalu yaitu anak balita bernama Melinda (4). Tetapi Yesin mengatakan kalau Melinda tidak alami gizi jelek.

“Untuk balita bernama Melinda tidak alami gizi jelek. Cuma saja masuk dalam keluarga kurang dapat, ” kata bidan Yesin.

“Dulu (Melinda) sempat pernah nyaris ada di garis merah, serta belum juga disebutkan gizi jelek. Kami kerjakan pendampingan serta pemberian nutrisi serta bersukur kembali normal, ” lanjut Yesin.

Baca Juga :  Negara-negara Arab Buka Nada atas Serangan AS serta Sekutunya ke Suriah

Kompas. com juga mengunjung rumah Melinda, anak balita sebagai bahan perbincangan pada Emil serta Puti.

Akses jalan menuju rumah Melinda cukup gampang karna telah dicor beton. Tempat tinggal balita Melinda Yesa Maharani (4), anak dari Sulikah (32) serta Juwarni (37), termasuk begitu simpel.

Di ruangan tamu tidak tampak meja serta kursi. Tetapi kursinya cuma satu, memiliki bahan kayu serta memanjang. Disana juga ada alas tikar untuk duduk sekalian tempat kumpul keluarga. Dinding bangunan rumah masih tetap berbentuk batu bata, belum juga dilapis semen.

Sulikah menerangkan, mulai sejak jadi bahan debat pilkada yang ditayangkan beberapa stasuin televisi, pihaknya terasa tertekan. Tetangga ataupun kerabat senantiasa menyebutkan kalau anaknya (Melinda) alami gizi jelek.

Bahkan juga, kakak Melinda di sekolah sempat juga jadi korban bully kalau adiknya alami gizi jelek. Lihat keadaan ini, ke-2 orang-tua balita Melinda terasa sedih.

“Anak saya baik-baik saja serta sehat-sehat saja seperti yang Mas saksikan sendiri, serta ini anaknya. Saya begitu sedih banyak tetangga atau rekan yang menyebutkan kalau anak saya gizi jelek, sesudah jadi bahan debat (pilkada) lantas, ” tutur Sulikah.

Ke-2 orangtua Melinda bersukur didatangi siapapun, terlebih oleh satu diantara calon wagub Jawa Timur Puti Guntur. Tetapi ia menyayangkan, gosip yang yang berkembang kalau yang dikunjingi Puti Guntur yaitu anak balita gizi jelek.

“Tidak benar bila anak saya (Melinda) gizi jelek. Bila sakit pilek, demam ya sempat, tapi bukanlah bermakna gizi jelek. Kami bersukur didatangi calon wagub Mbak Puti, ” ucap Juwarni (37), bapak kandung Melinda.

Juwarni memberikan, mulai sejak lahir, Melinda teratur ikuti program posyandu. Berat tubuh Melinda juga alami penambahan tiap-tiap bulannya.

“Setiap bln. ikuti timbangan berat tubuh di posyandu, kadang-kadang ibu bidan yang berikan arahan ke rumah kami, ” jelas Juwarni.

Support by : kompas.com