JAKARTA – Presiden Joko Widodo minta perguruan tinggi berani meniadakan fakultas atau program pendidikan yang telah kedaluwarsa serta tidak sesuai dengan perubahan jaman.

Perihal ini dikatakan Jokowi di depan beberapa pimpinan perguruan tinggi dan beberapa petinggi eselon I serta II Kementerian Penelitian Tehnologi serta Pendidikan Tinggi, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

“Satu kali lagi, saya ikut tidak ingin dengar PT tidak ingin meniadakan fakultas atau prodi yang telah kedaluwarsa. Ubah yang baru. Telah 40 tahun, 50 tahun, fakultas, prodi, itu-itu saja,” kata Jokowi.

Walau demikian, Presiden Jokowi malas mengatakan fakultas apakah yang dimaksud.

“Saya tidak perlu katakan lah namanya, Bapak Ibu semua paham lah. Bapak ibu lebih tahu dari saya,” katanya.

Jokowi menyampaikan, sekarang ini dunia telah beralih. Akan tetapi, dia heran mengapa perguruan tinggi begitu susah untuk sesuaikan program pendidikannya dengan perubahan jaman.

“Tidak tahu ini ekosistem di Perguruan Tinggi atau di kementerian atau dua-duanya. Dapat dua-duanya, kita blak-blakan saja jika telah berikut, blak-blakan saja lah. Saya suka kok blak-blakan berikut,” kata Kepala Negara.

Jokowi juga minta beberapa pimpinan perguruan tinggi dan petinggi kemenristekdikti yang ada untuk buka-bukaan. Dia mengakui suka bila dapat memperoleh input langsung.

“Kita akan bongkar bareng-bareng. Serta saya yakini bapak ibu sekalipun front paling depan dalam membuka yang tidak betul-betul ini,” kata Jokowi.

“Tetapi jika di front sangat depan masih tetap tidak berjalan, telah, saya tidak tahu pada siapa lagi saya mesti minta serta meminta,” tutur ia.

Didapati selesai acara, Menristekdikti M Natsir mengklaim jika pergantian yang susah berlangsung di perguruan tinggi itu dikarenakan oleh lingkungan di universitas tersebut.

Baca Juga : Guru SMAN 87 Jakarta Akhirnya Minta Maaf kepada Presiden Jokowi

Dia menyatakan jika Kemenristekdikti telah memudahkan beberapa regulasi untuk meniadakan fakultas yang telah kedaluwarsa maupun membuat fakultas baru.

Akan tetapi, penolakan sering muncul dari guru besar sampai dosen di universitas. Ini biasanya berlangsung pada perguruan tinggi negara.

“Mereka takut tidak dapat mengajar lagi jika prodi yang lama itu dihapus serta ditukar yang baru,” kata Natsir.